BAB 10
JESUS - A BETTER SACRIFICE IBRANI 9:15-10:39
JESUS - A BETTER SACRIFICE IBRANI 9:15-10:39
Ayat-ayat yang dipertentangkan
Kita sekarang berada pada bagian buku lbrani
yang paling dipertentangkan di sepanjang sejarah teologi yang dipelajari orang
Advent. Tidak sukar mengerti mengapa. Orang Advent mengajarkan bahwa Kristus
memulai satu pekerjaan khusus dalam mempersiapkan Kedatangan Kedua kali di Bulk
yang Maha Suci dalam kaabah di surga pada tahun 1844., liii dapat disamakan
dengan Hari Pendamalan dalam kaabah di bumi. Namun, bagjan dalam buku Ibrani ml
nampaknya membandingkan pengorbanan Kristus di salib dengan apa yang terjadi
pada Hari Pendamaian dan meletakkan Kristus dalam Bilik yang Maha Suci segera
setelah Dia naik ke surga. Perhatikanlah yang berikut, sebagai contohnya.
Sesudah menunjukkan bahwa sebuah wasiat(sama
dengan kata covenant = perjanjian dalam Alkitab) dibawa segera setelah kematian
orang yang membuatnya, buku Ibrani menunjukkan bahwa perjanjian Allah dapat
dipenuhi untuk membawa keselamatan melalul korban dan kematian (9:16-22).
Kemudian buku Ibrani berlahjut membandingkan korban di kaabah di bumi dengan
kematian Kristus dan masuknya la ke dalarn kaabah yang di surga (9:23-28). Ada
beberapa perbandingan yang penting.
Para
imam di bumi memasuki apa yang di bumi yang merupakan contoh dari apa yang
sesungguhnya yang ada di surga; sementara Kristus memasuki kaabah di surga itu
sendiri. Para imam di bumi harus mempersembahkan korban berulangulang kali.
Bagian pertama dari Ibrani pasal 10 menyatakan bahwa pengulang-ulangan korban ml
membuktikan ketidakefektifan mereka. Tetapi korban Kristus yang hanya sekali
itu sudah cukup dan efektif. Para imam di bumi menggunakan darah hewan, tetapi
Kristus memberikan darahNya sendiri.
Sebagai mana yang kita lihat dalam pelajaran
sebelumnya, tidak selamanyajelas bagaimana seseorang harus menerjemahkan
istilah holies (= suci) dalam buku Ibrani. Dalam Ibrani 9:25 versi NIV
menggunakan "Bilik Maha Suci," tetapi versi NRSV hanya mengatakan
bahwa imam memasuki "Bulk Suci." Kenyataan bahwa ayat itu mengatakan
masuk setiap tahun memberikan kesan bahwa itu adalah pelayanan tahun ke tahun,
clan dipandang sebagai Hari Pendamaian dalam Bilik Maha Suci. Tapi jika buku
Ibrani mengatakan Kristus masuk ke Bilik Maha Suci dari kaabah itu sesudah
pengorbananNya, mi nampaknya menimbulkan masalah dari pandangan Advent. Ada
paling sedikit 3 jawaban yang dianjurkan untuk masalah itu.
Tiga Jawaban untuk Pertentangan itu
1. Jawaban pertama mengatakan bahwa Ibrani
9:25 tidak berbicara tentang Bilik Maha Suci, melainkan Bilik Suci clan oleh
karena itu meneguhkan pandangan umat Advent. Konteks ayat itu, membuat
pandangan itu sukar untuk dipertahankan.
2. Jawaban kedua mengatakan bahwa Ibrani 9:25
berbicara tentang Bilik Maha Suci dan menunjukkan dengan jelas bahwa Yesus
masuk ke Bilik Maha Suci setelah kenaikanNya, yang bertentangan dengan
pandangan umat Advent. Ini adalah pandangan dari Ballenger dan Ford. (Lihat
kembali Pelajaran 3 tentang pertemuan yang terjadi di Glacier View).
3. Pandangan ketiga adalah salah satu yang diadopsi
oleh perwakilan-perwakilan yang ada di Glacier View pada tahun 1980 clan
selanjutnya dinyatakan dalam dokumen "Kristus dalam Kaabah Surgawi,"
yang disiapkan pada pertemuan di Glacier View itu. Pandangan ml meyakmni bahwa
buku Ibrani tidak berdiskusi tentang kronologi (urutan waktu), dan oleh karena
itu tidak meneguhkan ataupun menentang aspek waktu dari pandangan umat Advent
tentang pekerjaan Kristus dalam kaabah surgawi, namun melengkapi doktrin secara
keseluruhan. Buku Ibrani berbicara tentang sesuatu yang lain. Buku Ibrani tidak
mendiskusikan tentang kronologi. Melainkan diatur sebagal gambaran simbolik,
menggunakan kaabah sebagai batu loncatan untuk menjelaskan simbol-simbol yang
digambarkan.
Maksud dari gambaran secara simbol dalam buku
Ibrani adalah untuk menunjukkan pekabaran yang menakjubkan tentang akses (jalan
masuk) kita kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus. Buku Ibrani menunjukkan
bahwa kaabah di bumi, meskipun itu adalah tempat hadirat Allah dengan umatNya,
namun sebenarnya, mengingkari akses kita kepada Allah. Karena hadirat Allah ada
di dalam Bilik Maha Suci dari Kaabah itu, maka Allah terpisah dengan umat
biasa. Hanya seorang imam yang dapat masuk ke dalam Bilik Maha Suci. Dan
bahkan, hanya imam-imam tertentu yang dapat masuk, hanya Imam Besar saja. Dan
dia juga tidak dapat masuk setiap saat yang dia inginkan, melainkan hanya
sekali dalam setahun. Dan itu hanya peristiwa sekali-dalam-setahun sementara
banyak jiwa sepanjang tahun berada dalam ketakutan dan kegelisahan.
Buku Ibrani mengatakan bahwa semua perpisahan
itu telah berubah dengan hadirnya Yesus. Korban penebusanNya di salib itu
mengubah kenyataan alam semesta. Kenyataan yang baru itu digambarkan dalam
istilah simbol, menggunakan simbol kaabah. Korban Kristus membuka jalan; ke dalarn
Bulk Maha Suci. Kristus mendapatkan akses ke tempat yang suci dan hadirat Allah
di surga itu sekali dan untuk semua melalui kematianNya di salib. mi adalah
pengertian metafora. Buku Ibrani menggunakan bahasa Bulk Maha Suci dalam hubungannya
dengan apa yang dilakukan Kristus sesudah kematian dan kebangkitanNya.
Namun garis dasar dari kisah itu menunjukkan
bahwa kami bukanlah pernyataan yang kronologis melainkan simbolis, pernyataan
teologikal: Garis dasar itu juga sepenuhnya membuat kita kagum seluruhnya.
Sesuatu yang luar biasa. Kenyataannya, mi adalah inti dari keseluruhan
pekabaran tentang kaabah dalam buku Ibrani. lnilah puncaknya, dan betapa satu
klimaks yangmengagumkan! lnilah inti dari apa yang kita pelajari sejak pasal 4,
namun kita tidak pernah membayangkan selama jutaan tahun. lnilah misteni yang
besar tentang penebusan itu.
Gambaran yang luar biasa mi datang dari Ibrani
10:19.lnilah rahasianya. Buku Ibrani bukan hanya menggunakan istilah Bilik Maha
Suci untuk berbicara secara metafora tentang Yesus Knistus. Buku Ibrani
menggunakan istilah itu untuk berbicara kepada kitajuga. Dapatkah engkau
membayngkan bagaimana engkau sekarang sudah dapat melewati pelataran di bagian
luar kaabah, melewati Bilik Suci, melewati meja roti sajian, berada di belakang
tiral, dan terus masuk ke dalam Bilik Maha Suci dimana Allah tinggal? Apakah mi
pernah terjadi kepadamu?, inilah apa yang dikatakan buku Ibrani. Lihat Ibrani
10:19. Sekali lagi tidaklah selalu mudah untuk mengetahui bagaimana
menerjemahkan istilah holies, tapi dalam ayat ini fakta bahwa kata itu berarti
apa yang ada di balik tirai mengajurkan artinya adalah Bulk Maha Suci. OIeh
karena itu saya percaya terjemahan NIV benar ketika ia menerjemahkan ayat itu
sebagai berikut:
Therefore, brothers [and we would want to add
sisters], since we have confindence to enter the Most Holy Place by the blood
of Jesus, by a new and living way, opened for us through the curtain, that is,
his body, and since we have a great priest over the house of God, let us draw
near to God with a sincere heart in full assurance of faith. (Oleh karena itu,
saudara [clan kami ingin menambahkan saudari], karena kita memiliki keberanian
untuk memasuki Bilik Maha Suci oleh darah Yesus, dalam cara yang baru clan
hidup, membukakan bagi kita melalui tiral itu, yaitu, tubuhnya, dan karena kita
memiliki imam besar dalam rumah Allah, marilah kita menghampiri Allah dengan
hati yang tulus dalam jaminan iman sepenuhnya) (Hebrews 10:19-22a).
Engkau lihat betapa mengejutkan hal mi? Dimana
dalam Perjanjian Lama para penyembah jauh dari hadirat Allah, dan hanya imam
besar yang dapat memasuki hadiratNya sekali setahun dengan rasa takut clan
gentar. Kristus telah membuka jalan bagi kita untuk berada dalam hadirat Allah
sékarang, bukan dengan takut clan gentar, tapi dengan keyakmnan. Apakah mi
gambaran yang literal? Tentu saja tidak. Dimana saja engkau berada sekarang
sementara engkau membaca tuiisan ini, engkau masih berada di bumi, bukan di
dalam Bilik Maha Suci di kaabah di surga. Tapi buku Ibrani mengatakan bahwa
secara simbolis engkau ada di dalam Bilik Maha Suci, sebab apa yang ada dalam
Bilik Maha Suci sebenarnya adalah hadirat Allah, dan melalui Yesus Knistus,
Saudaramu, Juruslamatmu, dan Imam Besarmu,
engkau telah diundang datang ke hadirat Allah. Dan engkau tidak perlu takut.
Jika engkau telah menerima Yesus sebagai Imam Besarmu, engkau memilikiNya.
Engkau dapat dengan keberanian berada dalam hadirat Allah. •:.•
Ya, pekabaran itu simbolis, namun, wow, betapa
kenyataan hidup kita akan diubahkan jika kita percaya! Perhatikan apa
pernyataan yang dituliskan pada pertemuan di Glacier View tentang gambaran
simbolis yang sangat indah dalam buku lbrani.
Semua berkat mengalir secara terus menerus
dari kemujaraban korban Kristus. Buku Ibrani menyoroti dua pencapaian besar:
menyediakan jalan ke hadirat Allah tanpa rintangan, dan mengangkat dosa secara
menyeluruh.
Meskipun kaabah Perjanjian Lama itu penting,
namun itu menyatakan keterbatasan akses kita kepada Allah. Hanya mereka yang
dilahirkan dalam keturunan imam yang dapat memasukinya (Ibrani 9:1-7). Namun
dalam kaabah Surgawi, Kristus telah membuka bagi kita pintu menuju hadirat
Allah; oleh iman kita datang dengan keberanian ke tahta anugrahnya (pasal
4:14-16; juga 7:19; 10:19-22; 12:18-24). ltulah hak istimewa setiap orang
Kristen yang lebih besar bahkan dari pada imam-imam besar di Perjanjian Lama
itu.
Tidak ada lagi langkah pengantaraan dalam kita
menjangkau Allah. Buku Ibrani menekankan kenyataan bahwa Imam BesarAgung kita
berada di sebelah kanan Allah (pasal 1:3), dalam "surga itu sendiri ...
dalam hadirat Allah" (Pasal 9:24). Bahasa simbolis dari Bilik Maha Suci,
"yang diselubungi tirai," digunakan untuk meyakini kita tentang akses
kita yang bebas, langsung, dan sepenuhnya kepada Allah (pasal 6:19, 20;
9:24-28; 10:1-4).
Menurut catatan ml, Ibrani 9 dan 10
berbicaratentang Bilik Maha Suci tapi dalam cara simbolis tidak menegaskan
ataupun menyangkal kronologi buku Daniel. Buku lbrani tidak terkait dengan
kronologi. Buku lbrani berusaha menolong kita merenungkan betapa kita sendiri
sangat dekat dengan Allah seperti kita sudah berada dalam Bilik Maha Suci di
Kaabah di surga, di hadirat Allah itu.Satu Pekabaran dan (Access) Jalan Masuk
dan (Acceptance) Penenimaan
Buku
lbrani bukanlah satu-satunya bagian dari Perjanjian Baru yang menggunakan
gambaran simbolis. Surat Paulus kepada jemaat di Efesus, meskipun tidak dengan
tegas merujuk kepada kaabah, tapi juga menyatakan gambaran yang mirip. Dalam
Efesus 1 Paulus menunjukkan bahwa Yesus mati, bangkit kembali, dan duduk di
sebelah kanan Bapa di surga, di hadirat Allah. Kemudian dalam Efesus 2 Paulus
mengatakan bahwa kita, yang telah mati dalam dosa-dosa kita, juga telah
dihidupkan clan duduk bersama Kristus di surga. Paulus berkata:
As for you, you were dead in your transgressions
and sins.... But because of his great love for us, God, who is rich in mercy,
made us alive with Christ even when we were dead in transgressions—it is by
grace you have been saved. And God raised us up with Christ and seated us with
him in the heavenly realms in Christ Jesus. (Dan kamu, kamu yang telah mati
dalam pelanggaran clan dosa-dosamu.... Tapi oleh karena kasihNya yang besar
bagi kita, Allah, yang kaya akan kasih karunia, membuat kita hidup bersama
Kristus meskipun ketika kita mati dalam pelanggaran kita—oleh karena anugerah
engkau diselamatkan. Dan Allah membangkitkan kita dengan Kristus clan
mendudukkan kita denganNya di alam surga dalam Yesus Kristus) (Efesus 2:1-6).
Buku Efesus clan Ibrani ingin kita merasakan
bahwa oleh karena Yesus adalah Juruslamat clan Perwakilan kita, maka kita telah
berada dimanapun Dia berada. keberadaaanNya di tahta Allah menandakan keyakinan
akses kita yang secara langsung, ke hadirat Allah.
lnilah pekabaran yang buku lbrani tuntun untuk
kita pahami dari awalnya. Dalam Yesus Kristus jurang antara Allah dan kita
telah dijembatani. Kita sekarang dapat mengalami hadirat Allah dengan
keyakinan. Tapi mungkin pertanyaan sesungguhnya, "lalu apa?" Alkitab
menggambarkan bahwa kita sudah berada dalam hadirat Allah dengan Kristus.
Sekalipun begitu, kita tahu bahwa kita masih ada di tengah dunia yang penuh
dosa, berperang melawan semua jenis pencobaan dan masih menghadapi sakit hati
yang mengerikan. Jadi sebenarnya, apa makna pekabaran mi bagi kita? Perbedaan
apa yang diberikan pekabaran itu bagi kita? Buku lbrani memberikan
beberapajawaban untuk pertanyaan-pertanyaan. Satu Kata yang dijadikan Simbol Ketika
kita menyadari penggunaan simbolis yang buku Ibrani . lakukan dengan menggunakan kaabah di surga, kita harus
perjelas, agartidak ada yang disalah-mengerti, bahwa buku Ibran. tidaklah
menyangkal kenyataan keberadaan kaabah di surga itu.Adalah karena kenyataan
keberadaaan kaabah di surga itu sehingga penggunaannya secara metafora mungkin
terjadi. Sama seperti Efesus tidak menyangkali keberadaan sürga oleh
menggunakan surga sebagai simbol dalam Efesus 1 clan 2 sehubungan dengan akses
kita kepada Allah sekarang, clan sebagaimana Efesus tidak menyangkali
keberadaan kebangkitan T pada masa yang akan datang di saat kedatangan Yesus
oleh menggunakan kebangkitan sebagai metafora untuk berbicara
tentan'g kehidupan baru kita sekarang dalam
Kristus, demikian juga buku Ibrani tidak menyangkali keberadaan kenyataan
tentang kaabah di surga oleh karena buku mi menggunakannya sebagai metafora
tentang akses kita kepada Allah sekarang. Hal yang menarik dimana buku Ibrani
tidaklah memberikan banyak uraian tentang keberadaan dari kaabah di surga,
mungkmn karena kaabah sebenarnya yang ada di surga, yang tidak dibangun oleh
manusia melainkan oleh Tuhan, adalah satu "kenyataan yang jauh lebih mulia
dari apa yang dapat dipahami oleh pikiran kita."
Apa yang sangat luar biasa adalah buku Ibrani
mengambil keberadaan yang mulia dari kaabah surgawi dan menggunakannya dalam
cara metafora yang indah untuk mengatakan kepada kita tentang pengalaman
Kristen kita sekarang clan menunjukkan kepada kita satu penglihatan akan betapa
ajaibnya Allah yang kita layani itu clan Dia ingin memasuki hubungan itu
sekarang. Tapi kita harus tidak boleh lupa bahwa pekabaran yang dinyatakan mi
hanya merangsang keinginan kita untuk satu keadaan yang lebih mulia yang
menanti kita di masa yang akan datang ketika kita bertemu denganNya muka dengan
muka clan, dalam keadaan kita yang telah diubahkan, mampu untuk pertama kalinya
menghargai betapa mulia kenyataan kaabah surgawi itu sesungguhnya.Jawaban kita
terhadapPekabaran itu
Orang Kristen diidentifikasi dengan gambaran
yang dinyatakan dalam buku Ibrani sebagai hidup dalam cara yang baru. Jika kita
melihat diri kita sendiri sebagaimana hidup di hadirat Allah, telah bersamaNya
di tahta alam semesta dalam Bilik Maha Suci di Kaabah Surgawi, itu akan
mempengaruhi dasar cara hidup kita dari hari ke han. Apakah mi berarti kita
tidak lagi menghadapi pilihan-pilihan yang sukar? Tidak. Apakah itu berarti
kita tidak lagi berjuang dengan naik turunnya emosi kita? Tidak. Apakah itu
berarti kita tidak lagi berkabung oleh karena kehilangan orangorang yang dekat
dengan kita? Tidak. Apakah itu berarti di dunia mi kita bebas clan tidakakan
dikalahkan oleh pencobaan lagi? Tidak. Lalu, apa artinya? Buku Ibrani
mengatakan kepada kita dalam pasal 10:22-25. Disini kita menemukan bahwa oleh
karena Yesus, Imam Besar kita, telah membuka jalan melalui tirai itu, menuju
8111k Maha Suci, dimana Allah tinggal, maka kita dapat hidup dalam hadiratNya.
Ada paling sedikit lima kenyataan hidup yang berbeda da!am cara bagaimana kita
hidup.
1. Pertama, kita ditarik dekat kepada Allah
dengan hati yang tulus dalam keyakmnan iman sepenuhnya (10:22a). Ingat, dimana
diskusi tentang kaabah dimulai dalam buku Ibrani? Dimulai dari pasal 4, yang
berbicara tentang Imam Besar Agung yang menyanggupkan kita menghampiri tahta
Allah dengan keyakinan. Sekarang berakhir pada pasal 10, yang berbicara tentang
hal yang sama, menghampiri Allah dengan keyakinan clan jaminan. Kita tidak
harus bersembuyi dari Allah. Kita tidak harus takut terhadapNya. Pekabaran
penting dari kaabah adalah bahwa Dia sangat mencintai kita clan menyediakan
korban untuk kita yang menyanggupkan kita memperoleh keselamatan. Ini berarti
kita dapat berdoa dengan jujur. Tidak ada bagian dan hidup kita yangtidak
menarik clan tidak diperhatikan Allah. Kita dapat datang dekat kepadaNya dengan
jaminan.
2. Ketika kita hidup dengan kesadaran bahwa
kita hidup dalam hadirat Allah, kita akan menemukan pengampunan clan kebebasan
dari rasa bersalah (10:22b). Buku Ibrani berbicara disini tentang
"menyirami hati kita untuk membersihkan kita dari rasa bersalah clan
membasuh tubuh kita dengan air yang murni." Hal mi tidak mengizinkan kita
mengganggap mi adalah untuk kebaikan Allah, sebaliknya mi berarti bahwa ketika
kita jatuh clan berbuat kesalahan, kita tidak harus bergelimang dalam kesalahan
clan mengutuk diri sendiri. lngat bahwa pada awal pembelajaran kita, kita telah
mlihat bahwa Allah menuntun umatNya keluar dari Mesir supaya mereka dapat
berjalan tegak clan kuat. pengampunanNya memberikan kita hak istimewa yang
sama, sekalipun ketika kita menderita karena rasa malu kita (sebagaimana Larry
yang merasa malu kepada guru clan teman-temannya saat masuk ruang kelas dengan
surat tilang dari polisi). Pekabaran dari kaabah adalah Allah ingin sekali
mengampuni.
3. Perbedaan ketiga dalam cara hidup kita
yaitu menyangkut pengharapan (10:23). Tinggal dalam hadirat Allah berarti
mengetahui bahwa Allah itu setia: Dia memeliharajanjiNya. Oleh karena itu, kita
dapat hidup dalam pengharapan bahwajanji-janji pnbadiNya kepada kita akan
menjadi kenyataan. Kematian bukanlah menjadi kata yang terakhir. Kristus akan
datang lagi. Berbagai luka dan sakit hati menyayat sangat dalam sehingga
lukanya tak pernah disembuhkan dalam kehidupan ml, tapi kita tahu bahwa Allah
akan menghapus airmata dan menciptakan satu dunia yang baru yang bebas dari
dosa dan kematian. Hidup dengan akses kepada Allah adalah hidup dalam pengharapan.
4. Hdup dalam hadirat Allah sesederhana
pengalaman huo seseorang secara individu. Saya bukanlah satu-satunya anak
Allah. Saya memiliki saudara-saudari yang juga dikasihi oleh Allah. ltulah
sebabnya mengapa hidup bersama Allah berarti hidup sebagal bagian dari satu
keluarga. ml berarti mengadopsi satu pandangan baru untuk dunia.Gantmnya
melihat orang lain sebagai lawan kita, kita.melihat mereka sebagai saudara clan
saudani kita,bagian dari keluarga Allah. Oleh karena ttu Ibrani 10:24 mengingatkan
kita untuk memikirkan bagaimana kita akan memacu orang lain berbuat kasih clan
kebaikan.Kita punya tanggungjawab pada saudara-saudari kita di dunia mi. Kita
perlu menuntun meneka mencapai sukacita clan pengharapan yang sama yang kita
peroleh dalam Knistus.
5. Akhirnya, buku Ibrani memberikan satu
instruksi dengan sangat tegas kepada mereka yang hidup dengan keyakinan dalam
pekabaran tentang Imam Besar Agung yang ada di kaabah surgawi. Kita harus
berkumpul bersama dalam persekutuan clan perbaktian, memberikan semangat satu
dengan yang lain (10:25). Kenyataannya, penulis buku Ibrani peduli dimana
sebagian orang telah meninggalkan kebiasaan mereka menghadiri
pertemuan-pertemuan ibadah. Hidup dalam hadirat Allah tidaklah mudah. Kita
membutuhkan dorongan dari sesama umat percaya, clan mereka juga membutuhkan
dorongan kita. Mereka yang menerima Yesus sebagai Imam Besar clan Juruslamatnya
jangan hanya benjalan sendiri. Mereka menjadi bagian dari satu keluarga umat
percaya yang harus benibadah bersama clan menguatkan satu dengan yang lain.
Barangsiapa yang mau
akan selalu mendapatkan alasan untuk tetap tinggal dalam gereja. Meskipun
demikian, gereja itu sendiri selalu dipenuhi dengan ketidak-sempurnaan umat
manusia. Anggota gereja dan para pemimpinnya selalu membuat kesalahan, kadang
kesalahan itu sangat besar. Hinga Yesus datang, gereja itu tidak akan pernah
menjadi ;empurna. Tapi tidak pernah ada alasan untuk menyerah dan keluarga
Allah. Buku Ibranijelas. Orang Kristen haruslah berbakti bersama clan saling
menguatkan satu dengan yang lain melalui persekutuan gereja.
Tidak peduli apapun
masalah yang kita hadapi digereja, adalah lebih baik kita menjadi bagian dari
keluarga Allah dari pada menyendiri. Pengalaman kita hidup dalam keyakinan dan
pengharapan dengan Allah perlu dipelihara karena tidak ada persekutuan lain
diatas dunia mi yang dapat memberikan apa yang diberikan oleh persekutuan dalam
gereja.
Amaran
Terakhir
Ibrani
pasal 10 berakhir dengan sebuah amaran terakhir yang sama dengan apa yang kita
pelajari dalam pasal 6.Bacalah ayat 26 dan 27:
If we deliberately keep on sinning after we have
received the knowledge of the truth, no sacrifice for sins is left, but only a
fearful expectation of judgment and of raging fire that will consume the
enemies of God. (Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh
pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa
itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api
yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.)
Buku
Ibrani tidak berbicara tentang kesalahan-kesalahan yang kita semua perbuat atau
bahkan beberapa hal yang terus kita tentang dalam hidup kita. Buku Ibrani
berbicara mengenai sikap yang dengan sengaja menolak pekabaran itu, berpaling
dari Allah, clan hidup dalam kehidupan yang penuh dosa. Mereka yang melakukan
hal ml berada dalam kondisi yang Iebih buruk clan pada orang berdosa yang tidak
pernah mendengarkan pekabaran mi. Mereka menodai keselamatan Allah dan menghina
anugerah Allah.
Penulis
prihatin bahwa para pembaca boleh jadi, dalam sikap apatis mereka, masuk ke
dalam pencobaan mi. lni sangatlah tragis karena mereka telah menunjukkan jenis
iman yang demikian pada waktu yang lalu, bahkanpun di hadapan penganiayaan
(10:32-34). Namun ayat yang terakhir (35-39) menjelaskannya bahwa mereka
bukanlah di luar pengharapan. Kenyataannya, penulis mengakhirinya dengan
catatan yang positif:
But
we are not of those who shrink back and are destroyed, but of those who believe
and are saved. (Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan din clan
binasa, tetapi orang-orang yang percaya clan yang beroleh hidup). (Ibrani
10:39)
Doa
saya adalah bahwa perkataan yang sama dapat dikatakan untuk masing-masing kita
juga. Karena itu adalah apa yang Allah inginkan. Dia telah menyediakan
perlengkapan yang penuh untuk itu. Yesus telah dibuatnya korban. Dia telah
membuka jalan untuk kita melalui tirai menuju hadirat Allah. Kiranya kita semua
berada di antara mereka yang percaya dan diselamatkan.