Rabu, 26 Oktober 2016



LESSON 9
JESUS AND A BETTER COVENANT Ibrani 8:1-9:14
(Yesus dan Satu Perjanjian Yang Lebih Baik)

Covenants in the old testament (perjanjian-perjanjian dalam perjanjian lama)
  Sekarang nampaknya kita menggunakan kata covenant (perjanjian/akta) hanya pada persetujuan tentang harta milik.Contohnya akta tanah,akta rumah,dll. Di zaman perjanjian lama, istilah covenant digunakan untuk semua jenis persetujuan antar sesama. Jika orang membuat persetujuan, mereka biasanya membuat sesuatu yang membuktikan pengukuhan perjanjian itu. Salah satu upacara yang dilakukan dalam mengukuhkan sebuah perjanjian adalah dengan mengorbankan seekor hewan,seperti yang kita lihat dalam kejadian 15,dimana Allah membuat perjanjianNya dengan Abraham. Tindakan lain yang mungkin dilakukan,mendirikan tumpukan batu(Yakub dan Laban dalam kejadian 31) atau mengucapkan janji(Daud dan Yonatan dalam 1 samuel 18).
Elemen dasar dari perjanjian Allah dengan Israel adalah Dia akan menjadi Allah mereka,dan mereka akan menjadi umatNya. Orang Israel menyetujui perjanjian itu dengan berjanjiuntuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Allah(keluaran 24:7).Namun sejarah umat allah dalam perjanjian lama berisi rentetan kegagalan yang terjadi berulang-ulang mengakhiri perjanjian mereka, sementara itu Allah tetap berkomitmen untuk menyelamatkan umatNya dari kegagalan mereka dan dari kehancuran yang diakibatkan oleh kegagalan mereka itu.
Para nabi, yang menyatakan kegagalan Israel dan memprediksikan penaklukan yang menghancurkan mereka, pada saat yang sama mengabarkan janji anugerah Allah dan kerinduanNya untuk membuat perjanjian yang kekal dengan mereka, seperti yang dibuatNya dengan Abraham dalam kejadian 15. Ketika yesaya berbicara kepada orang Israel tentang penawanan dan penaklukan mereka,dia juga berbicara tentang pemulihan dengan berkata:
Sedengkanlah telingamu dan datanglah kepada Ku;dengarkanlah,maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud (Yesaya 55:3)
Yehezkiel juga menjanjikan:
Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka,dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka.Aku akan memberati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku ditengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.(Yehezkiel 37:26)
Kaabah Allah adalah bagian yang penting dari perjanjian itu,karena itu adalah symbol yang membuktikan hadirat Allah dengan mereka.
 Nabi Yeremia yang menggunakan kata new covenant (perjanjian baru)untuk menyatakan janji Allah.Ayat nubuatan yang diambil dari yeremia 31:31-34 inilah yang buku Ibrani jadikan ayat utama untuk mengajarkan tentang satu perjanjian baru yang disamakan dengan pekerjaan Yesus Kristus di kaabah surga. Itulah yang akan kita pelajari disini.
Historical and Linguistic Background (Latar Belakang Sejarah dan Bahasa)
        Sebelum kita beralih ke buku Ibrani itu sendiri untuk melihat apa yang dapat kita pelajari dengan perjanjian baru itu, kita akan akan coba melihat aspek yang mungkin membingungkan dari pelajaran yang akan kita pelajari. Dalam Ibrani 8-10 kita mendapat sejumlah referensi untuk kaabah.Beberapa kaabah menunjukan kaabah dibumi sementara yang lain menunjukan kaabah disurga.Kaabah di bumi yang dicatat buku ibranibiasanya merujuk pada sejenis tenda yang bisa dibawa kemana-mana(portable tent) yang orang Israel pertama miliki di padang gurun Sinai bukan pada struktur permanen yang kemudian ada di Yerusalem.Kenyataannya, buku Ibrani sering merujuk kaabah sebagai “kemah”.Bagian buku Ibrani yang kita pelajari ini juga sering membedakan antara dua bagian dalam kaabah,Bilik suci dan Bilik Maha Suci. Tapi bahasannya tidak selalu jelas,dan perbedaan penerjemahan tidak hanya menerjemahkan dalam kata yang berbeda namun juga interpretasi yang berbeda-beda.
  Buku Ibrani mengguakan dua istilah utama untuk kaabah dalam bagian yang sedang kita pelajari. Kata pertama adalah dalam bahasa Grika skene, atau tent (kemah). Kata yang kedua kata sifat hagia, yang berarti “holly(suci)”,tapi jika digunakan sebagai kata benda ,kata ini merujuk kepada sebuah tempat suci (a holly place). Masalahnya adalah penulis buku Ibrani tidak terlalu konsisten.Istilah yang sama dapat merujuk kepada keseluruhan kaabah atau salah satu bagian dari kedua bagian dalam kaabah. Kata sifat first (pertama) dapat berarti bagian yang pertama dalam kaabah atau kaabah yang pertama (dibumi). Kadang buku Ibrani menggunakan bahasa yang pengertiannya tersirat,seperti ketika dia berbicara tentang “holy of holies (suci dari yang suci)”(NRSV)untuk bagian dalam (bagian kedua, Bilik Maha Suci)dalam 9:3. Namun karena penerjemahan modern tidak setuju dengan arti kata itu di beberapa bagian, maka begitu sulit bagi pembaca untuk memahaminya.
  Dua bagian ini akan menolong kita memahami penggunaan kata Grika yang diterjemahkan, dalam Ibrani pasal 8-10.
1. Penggunaan kata Grika skene
Ayat
NIV
NRSV
Interpretasi
8:2
Tabernacle
Tent
Heavenly sanctuary
8:5
Tabernacle
Tent
Earthly Sanctuary
9:2
Tabernacle
Tent
Holy Place of earthly Sanctuary
9:3
Room
Tent
Most holy place of earthly Sanctuary
9:6
Outer Room
Tent
Holy place of earthly Sanctuary
9:8
Tabernacle
Tent
Earthly Sanctuary
9:11
Tabernacle
Tent
Heavenly Sanctuary
9:21
Tabernacle
Tent
Earthly Sanctuary





2.Penggunaan kata Grika hagia
              
Ayat
NIV
NRSV
Interpretasi
8:2
Sanctuary
Sanctuary
Heavenly sanctuary
9:1
Sanctuary
Sanctuary
Earthly Sanctuary
9:2
Holy place
Holy place
Holy place of earthly Sanctuary
9:3
Most Holy Place
Holy of Holies
Most Holy place of earthly Sanctuary
9:8
Most Holy Place
Sanctuary
Heavenly sanctuary
9:12
Most Holy Place
Holy place
Not clear-either heavenly sanctuary or Most Holy place of heavenly Sanctuary
9:24
Sanctuary
Sanctuary
Earthly Sanctuary
9:25
Most Holy Place
Holy place
Most Holy place of earthly Sanctuary
10:19
Most Holy Place
Sanctuary
Most Holy place of earthly Sanctuary



Pasti engkau bingung melihat bagan ini,apalagi saat engkau melihat kata yang sama diterjemahkan dalam cara?kata yang berbeda. Tapi sementara kita belajar kita akan mengerti mengapa demikian. Kita akan melihat bagaimana penulis memberikan indikator tentang apa yang sedang ia bicarakan.
The New Covenant in Hebrews (Perjanjian baru dalam buku Ibrani)
Di awal pasal 8, penulis berhenti untuk mengingatkan kita tentang poin utama yang sedang ia buat.Tujuannya bukanlah memberikan kita informasi teknis tentang keimamatan dan kaabah dan korban; melainkan menunjukan kepada kita betapa kita memiliki imam besar yang ajaib dan memiliki perbedaan yang dibuatNya dalam kehidupan kita.Dia sedang menulis tentang Yesus.
  Namun demikian, Dia juga memasuk-kan peralatan praktis disana untuk meletak-kan dasar tentang apa yang Yesus lakukan bagi kita.Dalam beberapa ayat diawal pasal 8, dia sedang mengangkat secara rinci apa yang dia singgung di pasal 7:22-Yesus adalah jaminan satu perjanjian yang lebih baik. Hal yang pertama sehubungan dengan perjanjian yang lebih baik ini adalah pekerjaan Yesus sebagai imam bukan terjadi di kaabah dunia yang dibuat dengan tangan manusia melainkan di kaabah surge. Sesuatu yang tidak dibuat oleh manusia.Para imam di bumi memberikan persembahan dan korban mereka di kaabah di bumi yang hanyalah satu bayangan atau sketsa dari apa yang ada di surga.Inilah bukti dari fakta bahwa kaabah di bumi dibuat sesuai dengan pola yang Allah tunjukan kepada Musa.
    Menurut buku Ibrani, perjanjian itu mengantarai bayangan yang ada di bumi bukan apa  yang sesungguhnya ada dalam pikiran Allah. Jika apa yang perjanjian pertama buat dengan kaabah di bumi telah sempurna,  Allah tidak perlu memberikan perjanjian yang baru.Tapi bahkanpun dalam perjanjian lama ,Allah telah membicarakan dengan perjanjian yang baru.Buku Ibrani kemudian mengutip(8:8-12)dari Yeremia 31:31-34, Kutipan terpanjang dari perjanjian lama yang ada dalam perjanjian baru.
      Dalam bagian pasal ini Yeremia mengatakan bahwa Allah akan membuat satu perjanjian baru dengan umatNya sebab mereka tidak memelihara PerjanjianNya yang pertama.Namun kali ini dia akan menaruh hukum (taurat)-Nya dalam pikiran mereka dan menuliskan dalam hati mereka.Mereka masing-masing akan mengenal Allah secara pribadi.Dia akan menjadi Allah mereka,dan mereka akan menjadi umatNya. Allah akan mengampuni mereka dan tidak akan mengingat dosa mereka lagi.Penulis buku ibrani menyimpulkan (8:13) bahwa janji ini membuat perjanjian yang lama itu menjadi tua (obsolete).
    Sebelum kita menuju ke pasal 9, kita harus berhenti sejenak untuk melihat betapa indah janji ini. Janji ini mengakui kegagalan manusia.Namun janji ini menunjukan betapa anugerah Allah itu tidak membiarka manusia gagal.Allah membuat perjanjian yang baru.Ini benar-benar datang dari luar manusia itu.Keinginan Tuhan adalah menuliskan paada pikiran dan hati umat-umatNya.Dengan kata lain, mereka akan mendalami (internalize) hubungan mereka denganNya. Dan lebih dari segalanya, Dia tidak akan mengingat dosa mereka lagi.
     Manusia dapat melupakan banyak hal. Tapi, meskipun kita mudah melupakan sesuatu, kita masih sukar melupakan kesalahan atau sakit hati yang dibuat oleh orang lain kepada kita.Disinilah keunggulan Allah lebih dari kita. Dia dapat melupakan kesalahan kita dan tidak mengingat dosa kita lagi.Inilah inti dari perjanjian baru itu. Mari kita beralih ke pasal 9 untuk melihat apa lagi yang dapat kita pelajari tentang perjanjian yang baru itu. 
    Dalam lima ayat pertama, buku Ibrani berbicara tentang dua bagian dari kaabah di bumi dan peralatan yang ada di setiap bagian itu. Nampaknya penulis tidak ingin memberikan pelajaran rohani dari peralatan ini seperti yang biasanya kita buat. Malahan penulis dengan cepat beralih dari perincian peralatan itu dan mengatakan bahwa dia tidak cukup waktu untuk menguraikannya secara rinci. Dengan demikian ,disini muncul satu elemen yang membingungkan untuk diinterpretasikan.Buku Ibrani mengatakan medzbah pedupaan emas terletak dalam Bilik Maha Suci, dimana dalam Keluaran 26 dan 30 dengan jelas mengatakan terletak dalam Bilik Suci. Banyak komentator yang mencoba menjelaskannya ,tapi tak satupun berhasil. Secara sederhana kita mengakui bahwa kita tidak mempunyai alasan yang cukup untuk menjelaskan perbedaan ini.
Sangat sukar untuk mengetahui mengapa penulis nampaknya tidak tertarik untuk mengangkat pelajaran dari simbol-simbol itu seperti yang kita sering ambil dari setiap peralatan yang ada di dalam kaabah itu.Ellen White menunjukan pentingnya perincian itu seperti pedupaan melambangkan doa yang naik ke surga (patriarch and Prophets,354). Tentu saja banyak dari pelajaran ini dimengerti sebagai sejarah masa lalu orang Kristen. Banyak pelajaran yang ditarik dari sesuatu yang sementara hanyalah merupakan spekulasi atau bahkan bertentangan, jadi mungkin saja apa yang dilakukan penulis adalah bijaksana.
Setelah melewati perincian peralatan itu , Ibrani 9:6-10 menunjukan kepada kita keterbatasan sesungguhnya dari perjanjian yang lama itu. Masalah pertama adalah akses kepada Allah sangatlah terbatas. Karena Bilik Maha Suci itu adalah tempat hadirat Allah, Allah nampaknya telah hilang dari antara manusia. Secara terus menerus para imam masuk ke Bilik Suci, dan tapi hanya imam besar yang dapat masuk ke Bilik Maha Suci, dan kemudian dia hanya dapat melakukannya sekali dalam setahun, pada Hari Pendamaian. Ini dinyatakan kepada penulis buku Ibrani bahwa jalan masuk kepada Allah itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu atau kaabah dibumi (9:8) masih berdiri dan masih ada perjanjian pertama yang mengatur hubungan antara Allah dan manusia.
Tapi ada masalah lain juga. Apa yang ada di kaabah di bumi adalah hal luar saja, seperti makanan dan minuman  dan upacara-upacara. Bukan yang sesungguhnya, bukan dari dalam hati dan bukan dari diri mereka sendiri, tidak mengubah seseorang dari dalam, bukan kesadaran sendiri untuk berbakti(9:9,10). Sebenarnya, diharapkan dengan simbol itu dapat merubah mereka dari dalam, tapi itu tidak terjadi.
Sejauh ini telah kita lihat tiga masalah dari perjanjian yang lama itu. Dalam perjanjian itu Allah memberikan kepadabangsa Israel satu keseluruhan sistem perbaktian dengan korban dan imam dalam kaabah di bumi dimana Dia tinggal dengan mereka. Mereka telah menyetujui untuk melakukan segala sesuatu yang Allah perintahkan dan mengikuti semua peraturan peribadatan dalam kaabah (lihat Keluaran 24:7). Tapi paling sedikit ada tiba masalah yang muncul. Pertama, mereka gagal(Ibrani 8:9).Berkali-kali mereka berpaling dari janji mereka dan tidak memelihara perjanjian itu. Tapi masalah bukan hanya pada umat itu. Perjanjian itu sendiri bermasalah. Kedua, masalah antara Allah dan umatNya. Pemisahan disebabkan oleh karena dosa manusia. Tapi sekalipun kaabah, yang dirancang untuk menyatukan Allah dan manusia, tetap menunjukan ada jarak antara Allah dan umatNya dan tidak dapat menjangkau Allah. Biasanya orang tidak dapat masuk ke Bilik Suci. Dan Bilik Maha Suci, dimana hadirat Allah terlihat, hanya dapat dimasuki oleh Imam Besar, dan hanya sekali setahun. Ketiga, upacara-upacara yang hanya secara luar (external rituals) tidak mampu mengubah kesadaran seseorang untuk berbakti dari dalam dirinya sendiri.
Bagian Alkitab dalam Yeremia yang menuliskan tentang satu perjanjian yang baru telah menjanjikan satu solusi untuk tiga masalah itu. Hukum itu akan menjadi bagian dari manusia (Internal); hati manusia akan diubahkan. Ini dinyatakan untuk masalah pertama dan ketiga. Ayat-ayat itu juga menjanjikan bahwa setiap orang akan mengenal Allah secara langsung. Setiap orang, dari yang terhina hingga yang terbesar, akan memiliki pengetahuan langsung akan Allah. Tidak terbatas pada iman saja.
Sangatlah mengejutkan dimana buku Ibrani melihat dalam Yesus Kristus ada penggenapan hal-hal ini, janji tentang satu perjanjian yang baru. Ini dinyatakan dalam pasal 9:11-14 dan akan diperjelas pada materi selanjutnya.
Buku Ibrani berkata bahwa ketika Kristus datang sebagai Imam Besar, Dia masuk sekali untuk selamanya di kaabah yang lebih besar yang bukan dibuat oleh tangan manusia. Dia tidak membawa darah lembu dan kambing ke dalam kaabah ini, melainkan darahNya sendiri.Darah ini melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh darah kambing atau lembu. Darah itu memurnikan kesadaran mereka yang datang berbakti dan menjamin penebusan kekal mereka. Pada titik ini buku Ibrani tidak menjelaskan bagaimana ini terjadi; buku Ibrani hanya mengumumkan bahwa itu terjadi. Pengorbanan Kristus disalib dan masuknya Dia ke kaabah surga memberikan kita jalan masuk menghampiri Allah dan kuasa baru untuk mengubah kita. Dalam pelajaran kita selanjutnya kita akan mempelajarinya lebih jelas, juga tentang pertanyaan apakah Ibrani 9:12 menyatakan Yesus masuk dalam Bilik Suci atau Bilik Maha Suci. Dalam hal ini kita hanya perlu pahami bagaimana kedua perjanjian itu berbeda.
Dalam buku Ibrani perbedaan antara dua perjanjian ini berbeda dengan perbandingan yang Paulus nyatakan dalam Galatia. Disana penekanan dibuat pada keabsahan perjanjian lama dan perjanjian baru yang berdasarkan anugerah. Tapi dalam buku Ibrani fokusnya pada jalan masuk kepada Allah dan perubahan dalam diri seseorang. Perjanjian yang lama dengan kaabah di bumi, melambangkan jarak antara Allah dan manusia, Yesus menghancurkan pemisah dan menuntun kita dengan keberanian menghampiri hadirat Allah. Upacara-upacara di perjanjian yang lama, selain mengandung pelajaran, tidak memiliki kuasa untuk mengampuni dan mengubah hati secara internal. Sementara Kristus dapat mengampuni dan menyelamatkan. Jadi dalam perjanjian yang lama, umatNya setuju untuk menuruti hukum Allah dan beribadah melalui upacara-upacara di kaabah di bumi, dan Allah setuju untuk menjadi Allah mereka. Dalam perjanjian yang baru Allah mengambil inisiatif untuk mengirimkan AnakNya sendiri menjadi korban yang memberikan pengampunan kepada kita, membuka jalan untuk kita menghampiri Hadirat Allah, dan mengubah kita dari dalam.
Ada kuasa yang mengubahkan dalam pengampunan Kristus. Ketika kita mengalami pengampunan, pengampunan itu akan mengubah hidup kita. Seperti pengalaman Dr.Marthin Luther King senior yang mengalami pengampunan dari Allah dan mengampuni orang yang telah membunuh isterinya. Ia berkata “God has been too good to me for me to hate. I don’t want revenge. God has been too good to me for me to hate.”[Allah telah sangat baik bagi saya, mengapa saya harus membenci. Saya tidak ingin membalas dendam. Allah telah sangat baik bagi saya]
Demikian perjanjian yang baru itu. Perjanjian itu bekerja dalam diri seseorang untuk mengampuni, menyucikan, dan mengubahkan. Perjanjian itu membuat kita sangat menghargai anugerah Allah sehingga kita juga memberikan anugerah (begitu baik) kepada orang lain.               

Popular Posts