LESSON 9
JESUS AND A BETTER
COVENANT Ibrani 8:1-9:14
(Yesus dan Satu
Perjanjian Yang Lebih Baik)
Covenants in the old testament (perjanjian-perjanjian
dalam perjanjian lama)
Sekarang nampaknya kita menggunakan kata
covenant (perjanjian/akta) hanya pada persetujuan tentang harta milik.Contohnya
akta tanah,akta rumah,dll. Di zaman perjanjian lama, istilah covenant digunakan
untuk semua jenis persetujuan antar sesama. Jika orang membuat persetujuan, mereka
biasanya membuat sesuatu yang membuktikan pengukuhan perjanjian itu. Salah satu
upacara yang dilakukan dalam mengukuhkan sebuah perjanjian adalah dengan
mengorbankan seekor hewan,seperti yang kita lihat dalam kejadian 15,dimana
Allah membuat perjanjianNya dengan Abraham. Tindakan lain yang mungkin
dilakukan,mendirikan tumpukan batu(Yakub dan Laban dalam kejadian 31) atau
mengucapkan janji(Daud dan Yonatan dalam 1 samuel 18).
Elemen
dasar dari perjanjian Allah dengan Israel adalah Dia akan menjadi Allah
mereka,dan mereka akan menjadi umatNya. Orang Israel menyetujui perjanjian itu
dengan berjanjiuntuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Allah(keluaran
24:7).Namun sejarah umat allah dalam perjanjian lama berisi rentetan kegagalan
yang terjadi berulang-ulang mengakhiri perjanjian mereka, sementara itu Allah
tetap berkomitmen untuk menyelamatkan umatNya dari kegagalan mereka dan dari
kehancuran yang diakibatkan oleh kegagalan mereka itu.
Para
nabi, yang menyatakan kegagalan Israel dan memprediksikan penaklukan yang
menghancurkan mereka, pada saat yang sama mengabarkan janji anugerah Allah dan
kerinduanNya untuk membuat perjanjian yang kekal dengan mereka, seperti yang
dibuatNya dengan Abraham dalam kejadian 15. Ketika yesaya berbicara kepada
orang Israel tentang penawanan dan penaklukan mereka,dia juga berbicara tentang
pemulihan dengan berkata:
Sedengkanlah
telingamu dan datanglah kepada Ku;dengarkanlah,maka kamu akan hidup! Aku hendak
mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang
Kujanjikan kepada Daud (Yesaya 55:3)
Yehezkiel
juga menjanjikan:
Aku akan mengadakan
perjanjian damai dengan mereka,dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal
dengan mereka.Aku akan memberati mereka dan membuat mereka banyak dan
memberikan tempat kudus-Ku ditengah-tengah mereka untuk
selama-lamanya.(Yehezkiel 37:26)
Kaabah
Allah adalah bagian yang penting dari perjanjian itu,karena itu adalah symbol
yang membuktikan hadirat Allah dengan mereka.
Nabi Yeremia yang menggunakan kata new
covenant (perjanjian baru)untuk menyatakan janji Allah.Ayat nubuatan yang
diambil dari yeremia 31:31-34 inilah yang buku Ibrani jadikan ayat utama untuk
mengajarkan tentang satu perjanjian baru yang disamakan dengan pekerjaan Yesus
Kristus di kaabah surga. Itulah yang akan kita pelajari disini.
Historical and Linguistic Background (Latar
Belakang Sejarah dan Bahasa)
Sebelum kita beralih ke buku Ibrani itu
sendiri untuk melihat apa yang dapat kita pelajari dengan perjanjian baru itu,
kita akan akan coba melihat aspek yang mungkin membingungkan dari pelajaran
yang akan kita pelajari. Dalam Ibrani 8-10 kita mendapat sejumlah referensi
untuk kaabah.Beberapa kaabah menunjukan kaabah dibumi sementara yang lain
menunjukan kaabah disurga.Kaabah di bumi yang dicatat buku ibranibiasanya
merujuk pada sejenis tenda yang bisa dibawa kemana-mana(portable tent) yang
orang Israel pertama miliki di padang gurun Sinai bukan pada struktur permanen
yang kemudian ada di Yerusalem.Kenyataannya, buku Ibrani sering merujuk kaabah
sebagai “kemah”.Bagian buku Ibrani yang kita pelajari ini juga sering
membedakan antara dua bagian dalam kaabah,Bilik suci dan Bilik Maha Suci. Tapi
bahasannya tidak selalu jelas,dan perbedaan penerjemahan tidak hanya
menerjemahkan dalam kata yang berbeda namun juga interpretasi yang berbeda-beda.
Buku Ibrani mengguakan dua istilah utama
untuk kaabah dalam bagian yang sedang kita pelajari. Kata pertama adalah dalam
bahasa Grika skene, atau tent
(kemah). Kata yang kedua kata sifat hagia,
yang berarti “holly(suci)”,tapi jika digunakan sebagai kata benda ,kata ini
merujuk kepada sebuah tempat suci (a holly place). Masalahnya adalah penulis
buku Ibrani tidak terlalu konsisten.Istilah yang sama dapat merujuk kepada
keseluruhan kaabah atau salah satu bagian dari kedua bagian dalam kaabah. Kata
sifat first (pertama) dapat berarti bagian yang pertama dalam kaabah atau
kaabah yang pertama (dibumi). Kadang buku Ibrani menggunakan bahasa yang
pengertiannya tersirat,seperti ketika dia berbicara tentang “holy of holies
(suci dari yang suci)”(NRSV)untuk bagian dalam (bagian kedua, Bilik Maha
Suci)dalam 9:3. Namun karena penerjemahan modern tidak setuju dengan arti kata
itu di beberapa bagian, maka begitu sulit bagi pembaca untuk memahaminya.
Dua bagian ini akan menolong kita memahami
penggunaan kata Grika yang diterjemahkan, dalam Ibrani pasal 8-10.
1. Penggunaan kata Grika skene
|
Ayat
|
NIV
|
NRSV
|
Interpretasi
|
|
8:2
|
Tabernacle
|
Tent
|
Heavenly sanctuary
|
|
8:5
|
Tabernacle
|
Tent
|
Earthly Sanctuary
|
|
9:2
|
Tabernacle
|
Tent
|
Holy Place of
earthly Sanctuary
|
|
9:3
|
Room
|
Tent
|
Most holy place of
earthly Sanctuary
|
|
9:6
|
Outer Room
|
Tent
|
Holy place of
earthly Sanctuary
|
|
9:8
|
Tabernacle
|
Tent
|
Earthly Sanctuary
|
|
9:11
|
Tabernacle
|
Tent
|
Heavenly Sanctuary
|
|
9:21
|
Tabernacle
|
Tent
|
Earthly Sanctuary
|
2.Penggunaan
kata Grika hagia
|
Ayat
|
NIV
|
NRSV
|
Interpretasi
|
|
8:2
|
Sanctuary
|
Sanctuary
|
Heavenly sanctuary
|
|
9:1
|
Sanctuary
|
Sanctuary
|
Earthly Sanctuary
|
|
9:2
|
Holy place
|
Holy place
|
Holy place of
earthly Sanctuary
|
|
9:3
|
Most Holy Place
|
Holy of Holies
|
Most Holy place of
earthly Sanctuary
|
|
9:8
|
Most Holy Place
|
Sanctuary
|
Heavenly sanctuary
|
|
9:12
|
Most Holy Place
|
Holy place
|
Not clear-either
heavenly sanctuary or Most Holy place of heavenly Sanctuary
|
|
9:24
|
Sanctuary
|
Sanctuary
|
Earthly Sanctuary
|
|
9:25
|
Most Holy Place
|
Holy place
|
Most Holy place of
earthly Sanctuary
|
|
10:19
|
Most Holy Place
|
Sanctuary
|
Most Holy place of
earthly Sanctuary
|
Pasti
engkau bingung melihat bagan ini,apalagi saat engkau melihat kata yang sama
diterjemahkan dalam cara?kata yang berbeda. Tapi sementara kita belajar kita
akan mengerti mengapa demikian. Kita akan melihat bagaimana penulis memberikan
indikator tentang apa yang sedang ia bicarakan.
The New Covenant in Hebrews (Perjanjian
baru dalam buku Ibrani)
Di
awal pasal 8, penulis berhenti untuk mengingatkan kita tentang poin utama yang
sedang ia buat.Tujuannya bukanlah memberikan kita informasi teknis tentang
keimamatan dan kaabah dan korban; melainkan menunjukan kepada kita betapa kita
memiliki imam besar yang ajaib dan memiliki perbedaan yang dibuatNya dalam kehidupan
kita.Dia sedang menulis tentang Yesus.
Namun demikian, Dia juga memasuk-kan
peralatan praktis disana untuk meletak-kan dasar tentang apa yang Yesus lakukan
bagi kita.Dalam beberapa ayat diawal pasal 8, dia sedang mengangkat secara
rinci apa yang dia singgung di pasal 7:22-Yesus adalah jaminan satu perjanjian
yang lebih baik. Hal yang pertama sehubungan dengan perjanjian yang lebih baik
ini adalah pekerjaan Yesus sebagai imam bukan terjadi di kaabah dunia yang
dibuat dengan tangan manusia melainkan di kaabah surge. Sesuatu yang tidak
dibuat oleh manusia.Para imam di bumi memberikan persembahan dan korban mereka
di kaabah di bumi yang hanyalah satu bayangan atau sketsa dari apa yang ada di
surga.Inilah bukti dari fakta bahwa kaabah di bumi dibuat sesuai dengan pola
yang Allah tunjukan kepada Musa.
Menurut buku Ibrani, perjanjian itu
mengantarai bayangan yang ada di bumi bukan apa
yang sesungguhnya ada dalam pikiran Allah. Jika apa yang perjanjian
pertama buat dengan kaabah di bumi telah sempurna, Allah tidak perlu memberikan perjanjian yang
baru.Tapi bahkanpun dalam perjanjian lama ,Allah telah membicarakan dengan
perjanjian yang baru.Buku Ibrani kemudian mengutip(8:8-12)dari Yeremia
31:31-34, Kutipan terpanjang dari perjanjian lama yang ada dalam perjanjian
baru.
Dalam bagian pasal ini Yeremia mengatakan
bahwa Allah akan membuat satu perjanjian baru dengan umatNya sebab mereka tidak
memelihara PerjanjianNya yang pertama.Namun kali ini dia akan menaruh hukum
(taurat)-Nya dalam pikiran mereka dan menuliskan dalam hati mereka.Mereka
masing-masing akan mengenal Allah secara pribadi.Dia akan menjadi Allah
mereka,dan mereka akan menjadi umatNya. Allah akan mengampuni mereka dan tidak
akan mengingat dosa mereka lagi.Penulis buku ibrani menyimpulkan (8:13) bahwa
janji ini membuat perjanjian yang lama itu menjadi tua (obsolete).
Sebelum kita menuju ke pasal 9, kita harus
berhenti sejenak untuk melihat betapa indah janji ini. Janji ini mengakui
kegagalan manusia.Namun janji ini menunjukan betapa anugerah Allah itu tidak
membiarka manusia gagal.Allah membuat perjanjian yang baru.Ini benar-benar
datang dari luar manusia itu.Keinginan Tuhan adalah menuliskan paada pikiran
dan hati umat-umatNya.Dengan kata lain, mereka akan mendalami (internalize)
hubungan mereka denganNya. Dan lebih dari segalanya, Dia tidak akan mengingat
dosa mereka lagi.
Manusia dapat melupakan banyak hal. Tapi,
meskipun kita mudah melupakan sesuatu, kita masih sukar melupakan kesalahan
atau sakit hati yang dibuat oleh orang lain kepada kita.Disinilah keunggulan
Allah lebih dari kita. Dia dapat melupakan kesalahan kita dan tidak mengingat
dosa kita lagi.Inilah inti dari perjanjian baru itu. Mari kita beralih ke pasal
9 untuk melihat apa lagi yang dapat kita pelajari tentang perjanjian yang baru
itu.
Dalam lima ayat pertama, buku Ibrani
berbicara tentang dua bagian dari kaabah di bumi dan peralatan yang ada di
setiap bagian itu. Nampaknya penulis tidak ingin memberikan pelajaran rohani
dari peralatan ini seperti yang biasanya kita buat. Malahan penulis dengan
cepat beralih dari perincian peralatan itu dan mengatakan bahwa dia tidak cukup
waktu untuk menguraikannya secara rinci. Dengan demikian ,disini muncul satu
elemen yang membingungkan untuk diinterpretasikan.Buku Ibrani mengatakan
medzbah pedupaan emas terletak dalam Bilik Maha Suci, dimana dalam Keluaran 26
dan 30 dengan jelas mengatakan terletak dalam Bilik Suci. Banyak komentator
yang mencoba menjelaskannya ,tapi tak satupun berhasil. Secara sederhana kita
mengakui bahwa kita tidak mempunyai alasan yang cukup untuk menjelaskan
perbedaan ini.
Sangat sukar untuk mengetahui mengapa penulis nampaknya
tidak tertarik untuk mengangkat pelajaran dari simbol-simbol itu seperti yang
kita sering ambil dari setiap peralatan yang ada di dalam kaabah itu.Ellen
White menunjukan pentingnya perincian itu seperti pedupaan melambangkan doa
yang naik ke surga (patriarch and Prophets,354). Tentu saja banyak dari
pelajaran ini dimengerti sebagai sejarah masa lalu orang Kristen. Banyak
pelajaran yang ditarik dari sesuatu yang sementara hanyalah merupakan spekulasi
atau bahkan bertentangan, jadi mungkin saja apa yang dilakukan penulis adalah
bijaksana.
Setelah melewati perincian peralatan itu
, Ibrani 9:6-10 menunjukan kepada kita keterbatasan sesungguhnya dari
perjanjian yang lama itu. Masalah pertama adalah akses kepada Allah sangatlah
terbatas. Karena Bilik Maha Suci itu adalah tempat hadirat Allah, Allah
nampaknya telah hilang dari antara manusia. Secara terus menerus para imam
masuk ke Bilik Suci, dan tapi hanya imam besar yang dapat masuk ke Bilik Maha
Suci, dan kemudian dia hanya dapat melakukannya sekali dalam setahun, pada Hari
Pendamaian. Ini dinyatakan kepada penulis buku Ibrani bahwa jalan masuk kepada Allah
itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu atau kaabah dibumi (9:8) masih
berdiri dan masih ada perjanjian pertama yang mengatur hubungan antara Allah
dan manusia.
Tapi ada masalah lain juga. Apa yang ada
di kaabah di bumi adalah hal luar saja, seperti makanan dan minuman dan upacara-upacara. Bukan yang sesungguhnya,
bukan dari dalam hati dan bukan dari diri mereka sendiri, tidak mengubah
seseorang dari dalam, bukan kesadaran sendiri untuk berbakti(9:9,10).
Sebenarnya, diharapkan dengan simbol itu dapat merubah mereka dari dalam, tapi
itu tidak terjadi.
Sejauh ini telah kita lihat tiga masalah
dari perjanjian yang lama itu. Dalam perjanjian itu Allah memberikan
kepadabangsa Israel satu keseluruhan sistem perbaktian dengan korban dan imam
dalam kaabah di bumi dimana Dia tinggal dengan mereka. Mereka telah menyetujui
untuk melakukan segala sesuatu yang Allah perintahkan dan mengikuti semua
peraturan peribadatan dalam kaabah (lihat Keluaran 24:7). Tapi paling sedikit
ada tiba masalah yang muncul. Pertama, mereka gagal(Ibrani 8:9).Berkali-kali
mereka berpaling dari janji mereka dan tidak memelihara perjanjian itu. Tapi
masalah bukan hanya pada umat itu. Perjanjian itu sendiri bermasalah. Kedua,
masalah antara Allah dan umatNya. Pemisahan disebabkan oleh karena dosa
manusia. Tapi sekalipun kaabah, yang dirancang untuk menyatukan Allah dan
manusia, tetap menunjukan ada jarak antara Allah dan umatNya dan tidak dapat
menjangkau Allah. Biasanya orang tidak dapat masuk ke Bilik Suci. Dan Bilik
Maha Suci, dimana hadirat Allah terlihat, hanya dapat dimasuki oleh Imam Besar,
dan hanya sekali setahun. Ketiga, upacara-upacara yang hanya secara luar
(external rituals) tidak mampu mengubah kesadaran seseorang untuk berbakti dari
dalam dirinya sendiri.
Bagian Alkitab dalam Yeremia yang
menuliskan tentang satu perjanjian yang baru telah menjanjikan satu solusi
untuk tiga masalah itu. Hukum itu akan menjadi bagian dari manusia (Internal);
hati manusia akan diubahkan. Ini dinyatakan untuk masalah pertama dan ketiga.
Ayat-ayat itu juga menjanjikan bahwa setiap orang akan mengenal Allah secara
langsung. Setiap orang, dari yang terhina hingga yang terbesar, akan memiliki
pengetahuan langsung akan Allah. Tidak terbatas pada iman saja.
Sangatlah mengejutkan dimana buku Ibrani
melihat dalam Yesus Kristus ada penggenapan hal-hal ini, janji tentang satu
perjanjian yang baru. Ini dinyatakan dalam pasal 9:11-14 dan akan diperjelas
pada materi selanjutnya.
Buku Ibrani berkata bahwa ketika Kristus
datang sebagai Imam Besar, Dia masuk sekali untuk selamanya di kaabah yang
lebih besar yang bukan dibuat oleh tangan manusia. Dia tidak membawa darah lembu
dan kambing ke dalam kaabah ini, melainkan darahNya sendiri.Darah ini melakukan
sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh darah kambing atau lembu. Darah itu
memurnikan kesadaran mereka yang datang berbakti dan menjamin penebusan kekal
mereka. Pada titik ini buku Ibrani tidak menjelaskan bagaimana ini terjadi;
buku Ibrani hanya mengumumkan bahwa itu terjadi. Pengorbanan Kristus disalib
dan masuknya Dia ke kaabah surga memberikan kita jalan masuk menghampiri Allah
dan kuasa baru untuk mengubah kita. Dalam pelajaran kita selanjutnya kita akan
mempelajarinya lebih jelas, juga tentang pertanyaan apakah Ibrani 9:12
menyatakan Yesus masuk dalam Bilik Suci atau Bilik Maha Suci. Dalam hal ini
kita hanya perlu pahami bagaimana kedua perjanjian itu berbeda.
Dalam buku Ibrani perbedaan antara dua
perjanjian ini berbeda dengan perbandingan yang Paulus nyatakan dalam Galatia.
Disana penekanan dibuat pada keabsahan perjanjian lama dan perjanjian baru yang
berdasarkan anugerah. Tapi dalam buku Ibrani fokusnya pada jalan masuk kepada
Allah dan perubahan dalam diri seseorang. Perjanjian yang lama dengan kaabah di
bumi, melambangkan jarak antara Allah dan manusia, Yesus menghancurkan pemisah
dan menuntun kita dengan keberanian menghampiri hadirat Allah. Upacara-upacara
di perjanjian yang lama, selain mengandung pelajaran, tidak memiliki kuasa
untuk mengampuni dan mengubah hati secara internal. Sementara Kristus dapat
mengampuni dan menyelamatkan. Jadi dalam perjanjian yang lama, umatNya setuju
untuk menuruti hukum Allah dan beribadah melalui upacara-upacara di kaabah di
bumi, dan Allah setuju untuk menjadi Allah mereka. Dalam perjanjian yang baru
Allah mengambil inisiatif untuk mengirimkan AnakNya sendiri menjadi korban yang
memberikan pengampunan kepada kita, membuka jalan untuk kita menghampiri
Hadirat Allah, dan mengubah kita dari dalam.
Ada kuasa yang mengubahkan dalam
pengampunan Kristus. Ketika kita mengalami pengampunan, pengampunan itu akan
mengubah hidup kita. Seperti pengalaman Dr.Marthin Luther King senior yang
mengalami pengampunan dari Allah dan mengampuni orang yang telah membunuh
isterinya. Ia berkata “God has been too good to me for me to hate. I don’t want
revenge. God has been too good to me for me to hate.”[Allah telah sangat baik
bagi saya, mengapa saya harus membenci. Saya tidak ingin membalas dendam. Allah
telah sangat baik bagi saya]
Demikian perjanjian yang baru itu.
Perjanjian itu bekerja dalam diri seseorang untuk mengampuni, menyucikan, dan
mengubahkan. Perjanjian itu membuat kita sangat menghargai anugerah Allah
sehingga kita juga memberikan anugerah (begitu baik) kepada orang lain.